Mahasiswa S1 DPP FISIPOL UGM Hadir di Aceh: Menguatkan Harapan Anak-Anak Korban Bencana Lewat FISIPOL Mengajar

Departemen Politik dan Pemerintahan (DPP) FISIPOL Universitas Gadjah Mada kembali menunjukkan komitmennya dalam pengabdian kepada masyarakat melalui partisipasi mahasiswa dalam program FISIPOL Mengajar 2026. Program ini merupakan inisiatif pemulihan pendidikan dan pendampingan psikososial bagi anak-anak terdampak bencana banjir yang melanda wilayah Aceh dan sekitarnya.

Dua mahasiswa DPP angkatan 2023, Rodrigo Thimotius Sitepu dan Muhamad Aditya Ibnu Salim, menjadi bagian dari 11 mahasiswa lintas jurusan yang diterjunkan ke lokasi. Program ini dilaksanakan dari 6 Januari-7 Februari 2026 dan bekerja sama dengan Yayasan Sekolah Sukma Bangsa Aceh serta melibatkan kolaborasi dengan relawan lokal untuk mendukung keberlanjutan pendidikan anak-anak di tengah situasi pascabencana.

Selama kurang lebih satu bulan, Rodrigo dan Aditya tidak hanya menjalankan kegiatan belajar-mengajar, tetapi juga memberikan pendampingan psikososial. Upaya ini bertujuan untuk membantu anak-anak memulihkan rasa aman, kepercayaan diri, serta semangat belajar mereka setelah mengalami trauma akibat bencana.

Rodrigo mengungkapkan bahwa keputusannya mengikuti program ini dilatarbelakangi oleh pengalaman pribadi. Ia sempat menghadapi situasi serupa ketika keluarganya terdampak banjir di Sumatera Utara. “Awalnya saya hanya ingin berdonasi. Namun, ketika melihat ada kesempatan untuk terjun langsung, saya merasa terpanggil untuk ikut membantu,” ujarnya.

Sementara itu, Adit melihat program ini sebagai ruang untuk mengaktualisasikan pengetahuan dan pengalamannya dalam isu perlindungan anak. “Dalam situasi bencana, anak-anak tidak hanya membutuhkan bantuan logistik, tetapi juga kehadiran yang tulus dan ruang aman untuk memulihkan diri,” jelasnya.

Pengalaman di lapangan memberikan kesan mendalam bagi keduanya. Di tengah keterbatasan fasilitas dan kondisi lingkungan yang belum pulih, mereka justru menemukan ketangguhan dan harapan dari masyarakat, terutama anak-anak. Banyak dari anak-anak mulai kembali berani belajar, bermain, dan mengekspresikan diri setelah mendapatkan pendampingan.

“Yang paling membekas adalah bagaimana mereka tetap bisa tersenyum dan bersyukur di tengah kondisi sulit. Itu menjadi energi bagi kami untuk terus hadir dan membantu,” ungkap Rodrigo. Hal serupa juga dirasakan Adit, yang melihat bahwa kehadiran relawan tidak hanya berdampak pada proses belajar, tetapi juga membuka ruang bagi anak-anak untuk bercerita dan memproses pengalaman traumatis mereka. “Terkadang, yang paling dibutuhkan bukanlah jawaban, tetapi kehadiran dan kesediaan untuk mendengarkan,” katanya.

Meski demikian, mereka juga menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan akses listrik, air bersih, hingga koordinasi di lapangan yang tidak selalu berjalan mulus. Rasa lelah dan frustrasi menjadi bagian dari proses, terutama ketika bantuan yang diberikan belum mampu menjawab seluruh kebutuhan masyarakat. Namun, di balik tantangan tersebut, keduanya sepakat bahwa pengalaman ini memberikan perspektif baru tentang makna ketangguhan dan empati. Pengabdian tidak hanya menjadi proses memberi, tetapi juga ruang belajar untuk memahami realitas sosial secara lebih mendalam.

Melalui keterlibatan mahasiswa dalam program seperti FISIPOL Mengajar, DPP berharap dapat terus mendorong peran aktif mahasiswa dalam merespons isu-isu kemanusiaan, sekaligus memperkuat nilai empati dan solidaritas sosial di tengah masyarakat.